Selasa, 02 November 2010

Terobosan Pikiran-Mesin: Manusia mengetik hanya dengan berpikir

Dengan memfokuskan diri terhadap gambar surat, orang dengan elektroda di otak dapat mengetik hanya dengan pikiran mereka. Demikian hasil penelitian.
Penemuan tersebut adalah satu langkah menuju interface pikiran-mesin yang dapat saja membantu manusia untuk berkomunikasi hanya dengan pikiran mereka. Peneliti telah menggunakan scan otak untuk melihat angka, dan bahkan menarik video dari dalam kepala orang.
Ilmuwan saraf memonitor dua pasien epilepsi untuk mencerap aktivitas mereka dengan elektroda yang diletakkan secara langsung pada permukaan otak untuk merekam aktivitas elektrik yang dibuat dengan menembak sel saraf. Prosedur ini memerlukan kraniaotomi, atau operasi membedah tengkorak.
Bagaimana cara kerjanya
Peneliti utama Jerry Shih, neurolog pada kampus klink Mayo di Jacksonville, Florida, menginginkan untuk menguji bagaimana fungsi interface pikiran-mesin tersebut berkerja pada pasien. Ia beralasan, bahwa elektroda itu akan berfungsi jauh lebih baik, ketika diletakkan secara langsung di otak, dibanding jika diletakkan pada kulit kepala, seperti pada EEG.
Mayoritas kajian mengenai interaksi pikiran-mesin telah menggunakan EEG, demikian penjelasan Shih.
‘Kulit kepala dan tengkorak mendifusi dan mendistorsi signal, seperti layaknya atmosfer bumi membelokkan cahaya dari bintang,’ kata Shih. ‘Itulah mengapa hasil pengembangan interface sejenis ini sangat lamban’.
Pasien duduk didepan layar yang menunjukkan petak 6 x 6 dengan satu huruf didalam setiap kotak. Setiap kali kotak dengan huruf tertentu dinyalakan, dan pasien berfokus padanya, elektroda itu merelai respons otak kepada komputer. Pasien kemudian ditanya untuk berfokus pada huruf tertentu, dan komputer merekam data tersebut.
Setelah sistim dikalibrasi untuk gelombang otak spesifik pada setiap pasien, ketika pasien memfokuskan diri pada suatu huruf, maka huruf tersebut akan tampak pada layar.
‘ Kami mampu secara konsisten memprediksi huruf yang diinginkan dari pasien kami pada akurasi mendekati 100 persen,’ kata Shih. ‘Walau ini dapat dibandingkan dengan hasil peneliti lain dengan EEG, pendekatan kami lebih terlokalisir dan berpotensi untuk menyediakan laju komunikasi yang lebih cepat. Tujuan kami adalah menemukan cara untuk menggunakan gelombang otak pasien secara efektif dan konsisten untuk melakukan pekerjaan tertentu.’
Bagaimana menggunakannya
Begitu teknik ini disempurnakan, pasien akan memerlukan kraniotomi, walaupun masih belum jelas berapa banyak elektroda yang diperlukan untuk diimplantasi. Komputer juga harus mengkalibrasi gelombak otak setiap orang untuk melakuakn tugas tertentu, seperti menggerakkan tangan prosthetic, demikian kata Shih.
‘Kajian ini adalah langkah kecil menuju masa depan, namun ia adalah hasil yang jelas dalam rangka menggunakan gelombang otak untuk melakukan tugas tertentu’.
Pasien tersebut harus menggunakan komputer untuk menterjemahkan gelombang otak mereka,’namun alat alat ini akan semakin kecil, sehingga bisa diimplantasi kedepannya’, kata Shih. ‘Kami menemukan bahwa kemajuan riset kami sangat menjanjikan’.
Peneliti tersebut telah mempresentasikan penelitian mereka pada pertemuan tahunan Masyarakat Epilepsi Amerika Serikat.

Lampu dengan tenaga darah manusia

Bagaimana, jika setiap kali anda ingin menyalakan lampu, maka kita harus berdarah terlebih dahulu? Maka dengan demikian, kita akan berpikir dua kali sebelum menerangi ruangan tersebut, dan menggunakan energi yang ada!
Ide dibalik ‘lampu darah’ tersebut, ditemukan oleh Mike Thomspon, seorang designer Inggris yang tinggal di Belanda. Lampu tersebut mengandung Luminol, senyawa kimia yangdigunakan ilmu forensik untuk mendeteksi keberadaan darah pada Tempat kejadian perkara (TPK). Luminol bereaksi dengan besi (ferum) pada sel darah merah dan membuat terang berwarna biru. Untuk menggunakan lampu tersebut, kita harus mencampurnya didalam bubuk aktivasi. Kemudian, kaca tersebut dipecahkan, lalu teteskan darah ke dalam bubuk.
Thompson mendapatkan ide ini beberapa tahun yang lalu, ketika sedang studi master pada Akademi Design Eindhoven di Belanda. Dia melakukan penelitian mengenai energi kimia untuk proyek tersebut, dan mempelajari kegunaan luminol.
‘ Bahwa energi menjadi sesuatu yang mahal, hal tersebut selalu membayangin pikiran saya. Penelitian ini adalah cara supaya kita berpikir secara alternatif mengenai cara menggunakannya’, Kata Thompson. Lampu tersebut dimaksudkan untuk ‘menantang persepsi manusia mengenai asal usul dari sumber energi kita’, demikian kata dia. Hal ini akan memaksa pengguna untuk ‘ berpikir ulang mengenai betapa berharganya energi, dan betapa selama ini telah terjadi pemborosan energi.’
Fakta bahwa lampu tersebut hanya bisa sekali digunakan, menjadikannya semakin pantas untuk jadi bahan renungan.
‘Kita harus dapat memutuskan, kapan menggunakan lampu tersebut, sebab ia hanya bekerja sekali,’ Kata Thompson. ‘ Hal itu menyebabkan kita merasa sayang untuk melakukan pemborosan.’
Thompson mendesain dan memproduksi lampu tersebut pada 2007, dan membuat video proyek tersebut pada tahun ini.